EVENT TICKET

Tuesday, November 15, 2011

Sekilas Tentang Arafah

Sekilas Tentang Arafah

Allah SWT berfirman, “Bukanlah suatu dosa bagimu mencari karunia dari Rabb kalian. Maka apabil kalian bertolak dari Arafah, berdzikirlah kepada Allah di Masy’aril Haram. Dan berdzikirlah kepada-Nya sebagaimana Dia telah memberi petunjuk kepada kalian; dan sekalipun sebelumnya kalian benar-benar termasuk orang yang tidak tahu.” (QS. Al-Baqarah: 198).

Imam Ahmad dan para penulis kitab Sunan meriwayatkan melalui sanad yang shahih dari Ats-Tsauri, dari Bukair bin Atha’ bin Abdurrahman bin Ya’mar Ad-Daili, dia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda, “Haji itu adalah wukuf di Arafah. Maka barangsiapa yang mendapatkan Arafah sebelum fajar berarti dia telah mendapatkan haji. Hari-hari di Mina itu ada tiga. Namun, siapa pun yang ingin mempercepat (di Mina) menjadi dua hari, maka dia tidak berdosa. Dan siapa saja yang ingin berlama-lama, dia juga tidak berdosa.”

Wukuf di Arafah dimulai sejak zawal hingga terbitnya fajar kedua di hari Nahar. Sebab, ketika Haji Wada’, Nabi melaksanakan wukuf sesudah mengerjakan shalat Dzuhur hingga matahari tenggelam.

Rasulullah bersabda, “Hendaklah kalian mengerjakan manasik sepertiku.” Dalam hadits ini beliau juga bersabda, “Siapa saja yang berada di Arafah sebelum terbit fajar, niscaya telah mendapatkan haji.”

Ini adalah pendapat Imam Malik, Abu Hanifah, dan Asy-Syafi’i. Sementara Imam Ahmad berpendapat bahwa wukuf itu dimulai dari awal hari Arafah.

Mereka berhujjah dengan hadits riwahyat Asy-Sya’bi dari Urwah bin Mudhras bin Haritsah bin Lam Ath-Thaiy’, dia berkata, “Aku datang menemui Rasulullah di Muzdalifah saat beliau keluar untuk mengerjakan shalat. Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, saya datang dari Gunung Thayy’, saya telah membuat lelah tunggangan saya dan tubuh saya penat. Demi Allah, tidaklah saya melintasi sebuah gunung melainkan saya berhenti (wukuf) di atasnya, maka apakah saya telah berhaji?’ Rasulullah bersabda, “Siapa saja yang menyaksikan shalat kami ini, lalu dia wukuf bersama kami hingga kami selesai, dan dia pernah melakukan wukuf sebelum itu di Arafah pada waktu malam atau siang hari, berarti telah sempurna haji dan ibadahnya.” (HR. Imam Ahmad dan Ahlus Sunnah).

Ada yang berpendapat, dinamakan Arafah karena berdasarkan riwayat Abdurrazaq, dia berkata, “Ibnu Juraij telah mengabarkan kepadaku, dari Ibnu Al-Musayyab bahwa Ali bin Abi Thalib berkata, ‘Allah telah mengutus Jibril menemui Ibrahim untuk melaksanakan ibadah haji beramanya. Ketika tiba di Arafah, Ibrahim berkata, “Araftu” (aku telah tahu).’ Sebab dia pernah mendatanginya sebelum itu. Oleh karena itu, tempat ini kemudian dinamakan Arafah.”

Sementara Ibnu Mubarak meriwayatkan dari Abdul Malik bin Abu Sulaiman dari Atha’, dia berkata, “Dinamakan Arafah karena Jibril pernah memperlihatkan manasik kepada Ibrahim. Ibrahim lalu berkata, ‘Araftu, araftu (aku tela tahu).’ Sebab itulah dinamakan Arafah.” Riwayat yang sama disampaikan pula dari Ibnu Abbas, Ibnu Umar dan Ibnu Majlaz. Wallahu’alam.

Arafah disebut pula Masy’aril Haram, Al-Masy’ar Al-Aqsha, dan Ilal ala Wazn Hilal. Gunung yang terdapat di tengahnya disebut Jabal Rahmah.

Pengalaman Wukuf di Arafah

Bagi saya, ibadah haji itu mengajarkan bahwa Islam adalah agama yang bergerak. Ini tercermin dari ibadah thawaf dan sa’i. Tahun ini, tidak kurang dari 5 juta jamaah dari seluruh penjuru dunia dengan pakaian ihram berthawaf, yaitu bergerak mengitari Ka’bah tujuh putaran sambil tak henti mengumandangkan doa.

Kemudian, mereka juga bersa’i, yaitu berlari-lari kecil dari Bukit Shafa ke Bukit Marwa selama tujuh kali. Jika kita tak bergerak di tengah-tengah kedua ritual itu, malah akan mengganggu yang lain.

Ajaran ‘bergerak’ mempunyai kesinambungan sejak adanya kehidupan di dunia ini. Thawaf sudah ada sejak Nabi Adam AS. Sedangkan sa’i merupakan ibadah yang meneladani kegigihan Siti Hajar (istri kedua Nabi Ibrahim yang hanya seorang budak wanita hitam) dalam mencarikan air bagi anaknya, Nabi Ismail AS, yang menangis karena kehausan.
Sedangkan wukuf di Padang Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah adalah ibadah yang nyaris tidak ada gerak. Wuquf berasal dari bahasa Arab, waqafa-yaqifu-wuqufan yang memang bermakna ‘diam’.

Namun mengapa ritual ‘diam’ ini justru menjadi rukun haji yang terpenting (rukun akbar)? Artinya, tidak sah ibadah haji seseorang jika tidak melakukan ritual ‘diam’ di tempat di mana Adam dan Hawa dipertemukan kembali oleh Allah SWT ini setelah diusir dari surga. Jika kita berhaji dan jatuh sakit pada hari itu, maka kita akan digotong dengan ambulans yang sudah tersedia.

Saking pentingnya peristiwa itu, saya sudah merasakan suasana spiritual sejak dari maktab (penginapan). Saya begitu tersentuh ketika sambil mengumandangkan lafadz talbiyah, ‘Labbaik allahumma labaik, Labbaika la syarikala labbaik’ (Ya Allah aku datang memenuhi panggilan-Mu dan tidak sekutu bagi-Mu ya Allah) saya memasuki Padang Arafah di malam hari.

Secara fisik, memang tidak ada yang istimewa di padang ini. Bagi saya, Taman Monas di Jakarta jauh lebih indah dan tertata rapi. Di tempat ini, saya hanya melihat sebuah padang yang tandus dan dikelilingi oleh bukit-bukit berbatu yang gersang dan tanah yang berdebu. Di siang hari, panas matahari terasa membakar.

Namun, dengan semua keterbatasan dari padang tersebut, saya justru melihat keistimewaan saat menyaksikan jutaan umat Muslim dari berbagai penjuru dunia dengan berpakaian ihram berbondong-bondong dengan berbagai cara. Ada yang datang dengan berjalan kaki, dengan mobil pribadi, dengan truk bak terbuka, maupun dengan bus tua di mana beberapa jamaah nekat duduk diatas dek bus itu. Mereka semua datang untuk memenuhi panggilan Ilahi.

Tanpa terasa, air mata saya menetes karena mengagumi kekuasaan-Nya. Saya juga bersyukur luar biasa karena menjadi bagian dari umat Islam yang mendapatkan kesempatan berhaji tahun ini.

Kenapa semua jamaah haji harus ‘diam’ di Arafah? Karena pada hari itu, mulai dari ba’da Dzuhur hingga terbenamnya matahari semua pintu langit Arafah dibuka seluas-luasnya oleh Allah SWT untuk hamba-Nya yang memohon ampunan dan rahmat-Nya.

Disinilah doa taubat pertama diucapkan oleh umat manusia, Nabi Adam dan Hawa: “Rabbana dzalamna anfusana wa in lam taghfir lana wa tarhamna lanakunanna minal khasirin,” (Ya Tuhanku. Sesungguhnya kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Kau tidak mengampuni dosa-dosa kami, maka kami menjadi hamba yang merugi).

Oleh karenanya, peristiwa ini sangatlah langka. Hanya sekali dalam setahun dan hanya diberikan pada jamaah haji yang berkumpul di padang tandus itu. Sehingga semua jamaah haji harus ‘diam’ pada saat dan tempat yangg sama untuk menggapai anugerah Arafah itu.

Saya sendiri memaknai suasana di Arafah itu adalah saat yang tepat untuk ‘diam’. Dalam ‘diam’ itulah saya berusaha ‘arafah’ (kenal) terhadap diri sendiri, utamanya terhadap dosa-dosa yang telah saya lakukan selama ini. Dalam ‘diam’ itulah saya bermunajat terutama atas dosa-dosa kepada orang tua, istri, anak-anak dan entah berapa orang yang telah terzalimi oleh sikap saya.

Semoga air mata tangis taubat ini menjadi titik balik dalam hidup saya untuk memulai hidup baru. Ibarat buku catatan, maka setelah ‘diam’ di Arafah ini buku saya sekarang telah menjadi baru kembali. Dalam ‘diam’ ini pula saya sadar bahwa jika kita terus bergerak saja tanpa ‘diam’ yang kontemplatif, merupakan tindakan yang justru tidak produktif.( Sumber: Noor Huda Ismail, Penulis buku ‘Temanku Teroris?’/Republika)

No comments:

Post a Comment