EVENT TICKET

Thursday, November 17, 2011

Sudah Dua Hari, Jamaah Haji Kloter 18 Solo Terlantar di Pemondokan; Setelah Disorot Terkait Konsumerisme Haji, Kini Polusi Sampah di Makkah Disoal


Sudah Dua Hari, Jamaah Haji Kloter 18 Solo Terlantar di Pemondokan; Setelah Disorot Terkait Konsumerisme Haji, Kini Polusi Sampah di Makkah Disoal


 Para jamaah asal rombongan kloter embarkasi Solo (SOC 18) kini sudah terlantar dua hari di pemondokannya di kawasan Hafair, Makkah. Mereka belum bisa pulang ke tanah air karena ada persoalan di penerbangan.

‘’Pihak penerbangan Garuda mencatat kami ada 375 orang yang akan pulang. Tapi ternyata oleh pihak maktab jamaah yang akan pulang hanya dikirim 130 saja. Akibatnya kami gagal pulang, karena pihak penerbangan tidak mau membawanya karena jumlah jamaah tidak klop dengan data penerbangan di bandara,’’ kata Haryono, jamaah haji anggota Kloter 18 SOC, di Makkah, Kamis (17/11).

Menurut dia, akibat tidak bisa pulang tepat waktu sementara sewa pondokan sudah habis, maka para jamaah pun terlantar. Pihak pengelola pondokan tidak mau menyediakan fasilitas layanan lagi kepada jamaah.

’’Air minum pun sudah tak ada. Banyak para jamaah, terutama yang berusia lanjut stres karena tak bisa segera pulang. Mereka sakit karena banyak yang mengeluh sudah tak enak lagi makan,’’ katanya.

Menanggapi soal tersebut, Kepala Daerah Kerja Makkah, Arsyad Hidayat, mengatakan persoalan tersebut sudah ditangani. Namun, sebenarnya itu bukan masalah di pihaknya, tapi menjadi masalah maktab dan pihak penerbangan.

’’Kami terus berusaha membantu jamaah untuk menyelesaikan hal ini. Tapi kalau soal data penumpang dan waktu penerbangan otoritasnsya bukan di kami,’’ tegas Arsyad Hidayat.

Sebagian anggota jamaah Kloter 18 SOC itu, kemarin siang, memang mendatangi kantor Daker Makkah. Mereka meminta agar pihak Daker segera bisa membantu penyelesain masalah pemulang jamaahnya.

‘’Kami tahu ini bukan masalah pelayanan Daker, taoi kamiharap mereka bisa membantu kami. Jangan kami terlalu lama terlantar di pondokan. Kasihanlah kepada jamaah yang usai lanjut,’’ tandas Haryono.

Jamaah Haji Diimbau tak Bawa Barang Berlebihan


 Meski sering kali disepelekan, para jamaah terus diimbau agar tidak membawa pulang barang berlebihan. Selain itu juga diminta jangan berusaha menyembunyikan air Zamzam di dalam koper. Ini karena pasti akan ketahuan dalam pemeriksaan bagasi di bandara King Abdul Aziz Jeddah.

‘’Kami terus imbau jamaah jangan bawa barang lebih dari 30 kilogram di tas bagasi. Barang yang ditenteng dibawa masuk pesawat juga jangan banyak. Ini pasti akan dilarang,’’ kata Kepala Daerah Kerja Makkah, Arsyad Hidayat, Kamis (17/11).

Pihaknya  prihatin dengan banyaknya barang milik jamaah yang sampai harus ditinggal di bandara karena berlebihan. Selain itu juga kelebihan barang membuat kerepotan petugas  penerbangan yang memeriksa isi tas jamaah.

‘’Bayangkan ribuan tas harus diperiksa. Kalau ada yang berlebih dan air zamzam yang ada di dalam tas mereka juga harus keluarkan. Akibatnya, proses ini juga menghambar rencana penerbangan karena ketika pesawat telah siap barang bawaan jamaah masih diperiksa,’’ kata Arsyad.

Menyikapi soal banyaknya jamaah yang membawa barang berlebih ketika pulang, pihak Daker Makkah kemarin menyebarkan pamflet berisi himbaun agar jamaah memperhatikan banyaknya barang bawaan. Ini menjadi penting karena selama ini para jamaah terlihat tidak memedulikannya.

‘’Imbauan agar jangan menyimpang air zamzam di dalam tas misalnya sudah ada semenjak setahun silam. Saat itu pemerintah Arab Saudi sudah sangak ketat mengatur keluarnya air Zamzam meski  itu dibawa oleh para jamaah haji. Nah, inilah yang masih kurang dihiraukan,’’ tegasnya.

Pada sisi lain, kesulitan jamaah membawa pulang oleh-oleh selama berhaji, juga terkendala dengan ‘buruknya’ layanan pengiriman barang ke Indonesia melalui perusahaan angkutan. Klaim mereka yang bisa mengirimkan barang sampai ke tanah air selama 20 hari sebelum masa puncak haji dan 30  hari setelah puncak haji banyak tak terbukti.

Jamaah haji asal Bekasi, Syamsuri, mengeluh karena kiriman air zamzam yang dikirim sepuluh hari sebelum puncak haji hingga kini belum sampai ke rumahnya. Padahal air itu sudah ditunggu-tunggu para kerabatnya yang jauh-jauh hari sudah memesannya.

‘’Kini ketika dihubungi telepon pengirimnya selalu mati. Ini ada apa? Sudah selama hampir sebulan kiriman saya belum sampai ke rumah,’’  rungut Syamsuri dengan kesal.

Di Makkah selama musim haji, memang tiba-tiba bermunculan banyak perusahaan paket pengiriman barang. Semua menjanjikan bisa mengirimkan barang dengan cepat dan aman. Tapi ini tampaknya hanya basa-basi mereka untuk menarik konsumen.

‘’Barang saya 40 hari baru sampai di rumah yang di Surabaya. Kalau ada omongan dan janji dari pengusaha travel barang bisa kirim barang sampai di rumah 20 hari itu bohong saja. Apalagi bila dikirim pada musim haji, bisa baru sampai dua bulan lamanya. Air Zamzam misalnya kini dikirim melalui kapal, tak bisa lagi dikirim melalui pesawat seperti dahulu,’’ kata Yusran, mukimin Indonesia di Makkah.

Pelayanan Kesehatan Jamaah Haji Belum Optimal



Penanganan masalah kesehatan selama ibadah haji perlu ditingkatkan. Pasalnya pelayanan kesehatan bagi para jamaah di Balai Pengobatan Ibadah Haji (BPHI) dinilai masih kurang.

Koordinator Tim Pemantau Peningkatan Pelayanan Penyelenggaraan ibadah Haji (TP4H) Jawa Tengah, Syamsul Ma'arif, mengatakan di BPHI masih kekurangan sarana dan prasarana kesehatan. "Ranjang pasien di sana masih sedikit," ujarnya saat ditemui di Gedung DPRD Jawa Tengah, Jalan Pahlawan, Rabu (16/11).

Syamsul menyebut  ranjang pasien yang ada di BPHI hanya sekitar 200 ranjang. Jumlah ini  jauh dibandingkan dengan jumlah jamaah haji Indonesia sebanyak 230 ribu.

Ketimpangan jumlah ini membuat penanganan pasien tak berjalan maksimal. "Akhirnya pasien yang belum sembuh terpaksa harus keluar karena antri dengan pasien yang lain," kata Syamsul.

Hal ini pun pernah menimpa dirinya. "Saya sendiri pernah diopname di sana, jadi tahu betul bagaimana pelayanannya," ucap anggota Komisi E DPRD Jateng ini.

Saat menjalani perawatan di BPHI, Syamsul terpaksa harus keluar karena ranjang yang digunakan jumlahnya sedikit sehingga harus bergantian dengan pasien yang lain. Padahal, kata Syamsul, kondisinya saat itu belum sembuh benar.

Alhasil karena dipaksa keluar sebelum sembuh total, Syamsul akhirnya kembali jatuh sakit. "Setelah wukuf, akhirnya masuk rumah sakit lagi dan diopname empat hari lagi," ujarnya.

Meski demikian, Syamsul memuji penyediaan cathering yang disediakan untuk para jamaah. Dirinya menyebut cathering tahun ini sudah lebih baik dibanding tahun lalu. "Catheringnya gak pernah telat, bahkan sudah siap sebelum jamaah datang," katanya.

Syamsul mengakui sempat menemui masalah dalam penyediaan katering. Pasalnya katering sempat tidak boleh masuk ke dalam hotel. Namun dengan pembicaraan dengan pihak hotel, akhirnya katering pun diperbolehkan masuk. "Kami sempat mengancam pihak hotel, kalau katering tidak boleh masuk, kami akan pindah hotel. Akhirnya katering pun boleh masuk," cerita Syamsul.

Jamaah Haji Kehilangan Uang di Pondokan, Pemilik Rumah Memberikan Ganti Rugi


Jamaah haji Indonesia yang kehilangan uang dan benda berharga di pondokannya saat ditinggal menjalankan ibadah di Arafah, Muzdalifah dan Mina selama empat hari akan diganti oleh pemilik rumah, sehingga jamaah tidak perlu khawatir.

"Kita upayakan semua barang berharga yang hilang minta ganti dari pemilik rumah sebagai bentuk tanggung jawab mereka terhadap kehilangan barang jamaah," kata Kepala Seksi Pengamanan Daerah Kerja Mekah, Bastomi Ahmad Khoiri kepada pers di Mekah, Selasa.

Bastomi Ahmad Khoiri mengatakan sejumlah jamaah telah mengadukan ke pihak keamanan Daerah Kerja (Daker) Mekah mengenai kehilangan barang berharga saat kamarnya ditinggal ibadah ke Arafah, Muzdalifah dan Mina (Armina).

Bahkan ada kamar di pondokan yang jendelanya dibobol orang tidak bertanggung jawab sehingga jamaah kehilangan uang dan benda berharga.

Bastomi mengatakan, seorang jamaah di rumah 347 misalnya, mengaku kehilangan Rp5 juta dan sudah diupayakan mendapat penggantian dari pemilik rumah dan jamaah sudah menerima ganti sebanyak 100 persen.

Di rumah 3.814, katanya, bahkan ada 10 orang yang mengaku kehilangan Rp1,4 juta dan 4.307 riyal (1 riyal sekitar Rp2.400) dan oleh pemilik rumah seluruh kehilangan sudah diganti oleh pemilik rumah.

"Kita sudah mengupayakan dan berupaya kepada pemilik rumah untuk mau tanggung jawab dan kami berhasil mengupayakan pemilik rumah mengganti seluruh kehilangan yang dialami jamaah Indonesia," katanya.

Selain itu ,kehilangan juga dialami oleh jamaah yang menempati rumah di nomor 214 yang kehilangan sebuah laptop dan sudah diganti 5.000 riyal, juga jamaah di rumah 209 yang kehilangan uang Rp8 juta juga sudah mendapat penggantian.

Kehilangan terbanyak, katanya, dialami seorang jamaah yang menempati rumah nomor 813 yang kehilangan uang Rp49 juta dan 8.800 riyal.

"Untuk kehilangan sebesar itu pemilik rumah bersedia melakukan penggantian tapi jumlahnya tidak sebesar itu. Alasannya karena jumlahnya terlalu besar," kata Bastomi.

Disamping kehilangan uang dan benda beerharga di kamar pondokan, katanya menambahkan, pihak pengamanan Daker Mekah juga banyak menerima laporan dari puluhan hingga seratusan orang yang kehilangan uang dan benda berharga selama di Mekah.

Para jamaah yang kehilangan umumnya disebabkan keteledoran sendiri, seperti lupa menaruh tas usai wudhu, lupa menaruh tas hingga kecopetan dan dirampas dengan total kehilangan sekitar Rp141 juta.

"Kalau yang kehilangan di luar kamar pondokan tidak ada penggantian. Siapa yang mau mengganti karena itu keteledoran jamaah. Kami dari pihak keamanan hanya bisa menerima laporan dan menindaklanjuti laporan itu ke pihak berwenang di Mekah," kata Bastomi.


Sudah 20 Ribu Lebih Jamaah Haji Tiba di Tanah Air



Sebanyak 20.478 jamaah haji Indonesia hingga Senin pukul 21.18 waktu Arab Saudi (WAS) atau Selasa pukul 01.18 WIB dengan 51 kelompok terbang sudah tiba di Tanah Air setelah selama 40 hari berada di Arab Saudi menunaikan ibadah haji.

"Jumlah jamaah sebanyak itu akan terus meningkat sejalan dengan telah dimulainya kepulangan ke Tanah Air sejak tanggal 11 November," kata Kepala Seksi Sistem Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) Kementerian Agama Evi Al Hudhori di Mekah, Senin (14/11).

Jamaah sebesar itu merupakan 10,25 persen yang sudah berada di Tanah Air, sementara yang masih tertinggal di Arab Saudi sebanyak 199.693 orang dan secara bertahap akan pulang ke Tanah Air setelah menjalankan berbagai ibadah.

Menurutnya, debarkasi (bandara kedatangan) terbanyak jamaah sampai saat itu adalah SOC (Solo) sebanyak 3.367 orang dengan sembilan kelompok terbang (kloter), debarkasi JKS (Bekasi) sebanyak 3.147 orang dengan tujuh kloter, debarkasi SUB (Surabaya) 3.127 dengan tujuh kloter, debarkasi JKG (DKI Jakarta) dengan 1.814 orang dengan empat kloter.

Dikatakan, hingga saat ini masih ada 165.404 jamaah haji Indoensia yang berada di Mekah dengan terbanyak berasal dari embarkasi SUB sebesar 35.072 orang, embarkasi JKS sebesar 31.643 orang, serta embarkasi SOC sebesar 27.350 orang.

"Sementara jamaah haji Indoensia yang telah berada di Madinah, sebesar 11.039 orang," katanya.
Keberadaan jamaah di Madinah untuk menjalankan ibadah Arbain dan setelah itu dipulangkan ke Tanah Air.

Bawa Zamzam di Kopor akan Merepotkan Jamaah Haji


Jamaah haji Indonesia saat pulang ke Tanah Air diketahui masih ada yang berupaya menyembunyikan zamzam di dalam kopor untuk dibawa ke kabin, padahal hal itu dilarang sesuai dengan ketentuann penerbangan internasional.

"Zamzam di kopor masih kita dapatkan dalam berbagai kemasan namun tidak terlalu banyak," kata Supervisor Kargo Garuda Indonesia Erick Sando, di Jedah, Senin.

Tindakan seperti itu, katanya, justru malah menyulitkan dan memperlambat kelancaran pemeriksaan barang dan bukan tidak mungkin jadwal penerbangan pun akan terlambat.

Padahal, katanya, pihak Garuda sudah sejak jauh-jauh hari menginformasikan kepada jamaah untuk tidak membawa benda-benda cair dan tajam masuk ke dalam kabin, karena hal itu sudah pasti akan dilarang sehingga barang harus ditinggal.

"Kami mengingatkan dan mengimbau agar jamaah jangan coba-coba untuk menyelipkan benda terlarang ke dalam kopor yang masuk kabin karena hal itu akan memperlambat pemeriksaan. Mohon dipatuhi," katanya.

Garuda memahami kondisi jamaah haji Indonesia yang merasa kekurangan dengan pemberian lima liter zamzam. Hanya saja, dia mengimbau agar jamaah tidak terlalu banyak membawa air zamzam, karena hal ini akan terkait dengan daya angkut pesawat.

"City Check In Garuda" setiap harinya melakukan sortir 2.700 koper jamaah haji dari tujuh kelompok terbang (kloter), yang akan terbang ke Tanah Air. Di tempat tersebut, tas koper ditimbang dan disortir melalui xray, apakah membawa barang berbahaya atau tidak.

Erick Sando mengatakan, koper jamaah haji sudah ditimbang dan dibawa sejak dari pemondokan oleh perusahaan kargo bernama Majro'i.

Perusahaan inilah yang kemudian membawa tas jamaah dari pemondokan baik di Makkah dan Madinah menuju "City Check In Garuda" di Madinatul Hujjaj, Jedah. "Koper dari Mekah dikirim 30 jam sebelum terbang. Sedangkan Madinah dikirim 48 jam sebelumnya," katanya.

Kemudian di Madinatul Hujjaj, koper tersebut ditimbang dan disortir melalui x-ray. Selanjutnya 12 jam sebelum penerbangan, koper tersebut dikirim ke bagasi Garuda di bandara King Abdul Azis, Jeddah.

Dua jam sebelum pesawat yang akan membawa jamaah terbang, barang-barang tersebut sudah harus dimasukkan ke dalam bagasi pesawat

Jumlah Jamaah Wafat Bertambah Menjadi 257 Orang


 Kekhawatiran mengenai banyaknya jamaah haji yang meninggal sepekan usai masa puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armina) terbukti.Data Siskohat yang dirilis pada Senin (14/11) pukul 09.00 Waktu Arab Saudi  (WAS) menunjukan bahwa sepanjang hari Ahad (13/11) jumlah jamaah yang wafat sudah  257 orang.

Jumlah jamaah haji yang wafat itu melonjak cepat bila dibandingkan data sehari sebelumnya yang hanya mencapai 212 jamaah. Bahkan, pada masa awal kedatangan hingga menjelang pelaksanaan wukif di Arafah,  jamaah yang wafat rata-rata hanya 2-3 orang saja per hari.

‘’Ya kini adalah hari-hari puncak jumlah jamaah yang wafat. Beberapa hari kedepan jumlahnya akan menurun. Ini kecenderungan yang terjadi setiap tahun. Grafiknya selalu begitu, ‘’ kata Staf Senior Pusat Kesehatan Haji Departemen Kesehatanm Abdul Hafidz, di Makkah, Senin (14/11).

Menurut dia, banyaknya jumlah jamaah yang meninggal pasca pelaksanaan mengikuti prosesi puncak haji di kawasan Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armina) ini lebih banyak karena dipicu faktor kelelahan fisik. Penyakit yang tadinya sudah ada semakin parah. Bahkan yang sehat pun seusai puncak haji pun ikut sakit. ‘’Tahun kemarin pada hari yang sama jumlahnya juga tak berbeda, yakni mencapai 47 orang wafat dalam satu hari,’’ kata Hafidz.

Data Sistem Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) pukul 08:53 WAS, mencatat posisi terakhir jamaah wafat saat itu mencapai 257 orang. Jamaah haji reguler wafat 245 orang dan jamaah haji plus wafat 12 orang. Dalam data itu  menunjukkan, jamaah wafat terbanyak berasal dari embarkasi Surabaya 53 orang, disusul embarkasi Solo 46 orang, embarkasi Bekasi 33 orang, embarkasi Jakarta 29 orang, serta embarkasi Makassar 18 orang. Yang wafat kebanyakan jamaah yang berusia lanjut, 60 tahun ke atas.

Lonjakah jumlah jamaah haji yang meninggal terasa bila melihat jumlah jamaah yang wafat hingga Sabtu (12/11) pukul 16.18 waktu Arab Saudi (WAS). Saat itu jumlahnya masih mencapai 212 orang, dengan rincian 204 orang haji reguler dan delapan orang haji khusus.

Namun, pada saat itu posisi asal jamaah yang wafat tetap belum berubah. Jamaah wafat terbanyak berasal dari embarkasi Surabaya 44 orang, disusul embarkasi Solo 38 orang, embarkasi Bekasi 29 orang, embarkasi Jakarta 23 orang, serta embarkasi Makassar 17 orang.
 
Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umroh Kementerian Agama Slamet Riyanto, mengatakan jamaah wafat tahun ini memang banyak yang berusia 60 tahu ke atas dan masuk dalam golongan resiko tinggi (Risti). "Memang usia 60 tahun ke atas banyak yang wafat dalam pelaksanaan haji karena memang faktor usia dan kelelahan," katanya.

Jamaah haji gelombang II yang datang mendekati masa puncak haji, secara berangsur-angsur mulai Ahad lalu berpindah ke Makkah. Mereka rencananya akan berada di sana selama 8-9 untuk melaksanakan ibadah shalat Arbaiand i Masjid Nabawi.

Mewaspadai masih banyaknya jamaah yang kelelahan pasca melakukan Armina, Koordinator Media Centre Haji MAdinah Zainuddin Daulay mengatakan petugas PPIH Daker Madinah memang mewaspadai ancaman kesehatan bagi jamaah.  Pasalnya, secara umum kondisi jamaah menurun pasca puncak haji di Mekkah dan Armina.

“Kami menghimbau mereka bisa mengontrol kondisi tubuh, jangan sampai jemaah jatuh sakit karena memaksakan diri melakukan ibadah selama di Madinah ini," ujar Daulay.

Selain itu, dia menghimbau agar tim pengawas katering diminta lebih meningkatkan kerja mereka. Ini, katanya, agar kasus-kasus jemaah mengalami gangguan kesehatan akibat katering tidak terjadi lagi. “Kami berharap agar tidak ada kasus diare yang disebabkan karena persoalan catering,” katanya. N muhammad subarkah

Banyak Jamaah Bawa Barang Terlarang ke Kabin Pesawat


Jamaah haji Indonesia masih sangat tidak disiplin dalam membawa barang di pesawat. Akibatnya, pemeriksaan barang bawaan jamaah di Bandara King Abdul Azis Jeddah menjadi sangat lama karena dalam satu kloter terdapat banyak jamaah yang membawa barang yang dilarang.

Hasil pengamatan pihak Garuda Indonesia di Bandara King Abdul Azis Jeddah menemukan banyak sekali jamaah yang membawa barang-barang yang dilarang ke dalam pesawat. 'Hal ini menjadi faktor cukup besar dalam mempengaruhi keterlambatan pemulangan kloter pertama di tengah sarana bandara yang terbatas seperti mesin x-ray yang hanya satu unit untuk 4.000 jamaah haji Indonesia.

Manager Senior Perencanaan dan Kebijakan Haji Garuda Indonesia Sofyan Anwar menuturkan pihaknya sempat ditegur petugas Arab Saudi karena mereka menemukan banyak jamaah haji Indonesia yang membawa barang-barang yang dilarang masuk kabin. ''Padahal kami telah melakukan body search (pemeriksaan fisik) dan meminta jamaah untuk menyerahkan barang-barang yang dilarang sebelum mereka masuk bandara,'' katanya di Jeddah, Sabtu (12/11).

Garuda juga sudah berkali-kali menyampaikan sejumlah barang dilarang masuk pesawat kepada jamaah. Bahkan ketika pemeriksaan barang di plaza yang berlokasi berdekatan dengan bandara, petugas Garuda sudah meminta jamaah untuk menyerahkan barang-barang terlarang tersebut.

Dari jamaah setiap kloter, petugas Garuda, banyak memperoleh gunting, gunting kuku, cutter, pisau dapur, garpu, sendok, dan cairan dalam ukuran di atas yang ditentukan. Petugas Garuda berkali-kali mengingatkan kepada jamaah untuk tidak coba-coba membawa barang tersebut ke bandara karena nantinya juga barang tersebut tidak boleh dibawa pulang.

Namun, kenyataannya masih saja banyak jamaah yang membawa barang-barang tersebut dan enggan menyerahkan kepada petugs Garuda. Akibatnya ketika jamaah ini masuk ke bandara dan diperiksa dengan mesin x-ray, barang-barang yang dilarang tersebut tetap masih banyak ditemukan petugas Arab Saudi.

''Tas-tas jamaah kita akhirnya harus dibongkar dan hal ini membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Kalau ada satu kloter terdapat 50 orang jamaah seperti itu maka waktu pemeriksaan oleh petugas bandara semakin lama,'' kata Sofyan. Padahal ruang tunggu sebelum pemeriksaan x-ray di Bandara King Abdul Azis hanya disediakan satu ruangan untuk jamaah Indonesia. Semakin lama pemeriksaan barang bawaan jamaah, akan semakin antre kloter berikutnya yang akan menggunakan ruangan tersebut. Hal itu akhirnya mempengaruhi jadwal penerbangan.

Karena itu, Sofyan kembali menghimbau kepada jamaah haji Indonesia untuk mentaati aturan penerbangan supaya tidak menemukan persoalan di bandara.

Setelah Disorot Terkait Konsumerisme Haji, Kini Polusi Sampah di Makkah Disoal


Usai musim haji, masalah sampah dan kesehatan lingkungan di Makkah jadi sorotan. Dengan meningkatnya ancaman perubahan iklim, muncul seruan agar otoritas di Makkah turut mengurangi kerusakan lingkungan akibat masuknya jutaan orang dalam satu kali kesempatan.

"Semua orang tiba pada saat yang sama, di tempat yang sama, dan setiap tahun jumlahnya bertambah," kata Dr Husna Ahmed, penulis utama dari The Green Guide for Hajj, sebuah buklet yang mempromosikan praktik-praktik berkelanjutan secara ekologis untuk haji yang dirilis awal pekan ini.

Ahmed, yang juga CEO dari Faith Regen Foundation, mengatakan bahwa botol plastik sebanyak 100 juta lebih dibuang oleh para peziarah selama haji tahun lalu. Ahmed menambahkan bahwa pihak berwenang Makkah belum membuat ketentuan yang memadai untuk daur ulang sampah.

"Semua limbah dari makanan, asap, dan semua energi yang digunakan untuk menyalakan hotel-hotel, memiliki dampak lingkungan yang signifikan," kata Ahmed. "Dan itu sebelum Anda berpikir tentang jejak karbon dari semua orang yang terbang ke seluruh dunia."

Menurut Ahmed, persoalan ini merupakan masalah praktis dan budaya. Padahal, otoritas lokal di Mekah bisa mulai memperkenalkan langkah-langkah hemat energi, seperti tenaga surya untuk Masjidil Haram dan transportasi ramah lingkungan.

"Sayangnya, isu-isu perubahan iklim dan konservasi bukan prioritas tinggi bagi umat Islam," kata Ahmed.

Sebelumnya, dalam sebuah tulisan ficer, harian The Independent mengupas sisi dalam Kota Suci yang berubah menjadi pusat konsumerisme dunia dan dibangun tak ubahnya seperti Las vegas. "Meski Nabi Muhammad datang untuk menekankan kesetaraan, Makkah berubah menjadi taman bermain bagi kaum kaya dimana kapitalisme secara kasat mata mengaburkan nilai spiritualitas kota," tulis mereka, mengutip kata-kata seorang kritikus.

Hal yang sama diungkapkan lembaga Green Pilgrimage Network (GPN). "Jika Anda berpikir tentang Allah sebagai pencipta, maka itu pasti menimpa Anda untuk merawat ciptaan-Nya," kata Martin Palmer, sekretaris jenderal jaringan ini. GPN  adalah organisasi multi-agama  yang bertujuan untuk membuat aliansi kota suci di seluruh dunia untuk berkomitmen pada  praktik-praktik berkelanjutan, seperti melarang mobil di rute haji, meningkatkan pengelolaan limbah dan berinvestasi dalam energi terbarukan.

Menurut jaringan ini, lebih dari 100 juta orang setahun melakukan ziarah agama, menjadikannya salah satu alasan terbesar agar para pengelola kota suci memperhatikan lingkungan.

"Ziarah telah menjadi rusak oleh konsumerisme," katanya. Beda dengan puluhan tahun lalu. "Dulu, mereka membawa air minum dalam termos, bukan dengan membeli botol minuman plastik," katanya.

Jaringan ini diluncurkan minggu lalu di kota suci Katolik Asisi di Italia. Jaringan terdiri dari 12 kota anggota, termasuk Amritsar di India, di mana mereka telah berjanji untuk menyediakan air minum bersih bagi peziarah Sikh yang bepergian ke Kuil Emas sana, dan di St Albans di Inggris, Gereja Inggris mengatakan akan menginstal panel surya di katedralnya.

"Ini  baru permulaan," kata Palmer, yang berniat menyasar 300 kota untuk masuk dalam jaringan ini.

Untuk bergabung dengan jaringan, ia mengatakan, otoritas kota harus bersedia  untuk bekerja dalam kemitraan dengan masyarakat lintasetnik dan agama menuju "tujuan lingkungan bersama."

Makkah, katanya, belum masuk menjadi anggota. "Saya mengerti bahwa otoritas keagamaan akan melalui sejumlah langkah yang teliti untuk memastikan semuanya sesuai dengan hukum Islam sebelum memberikan dukungan resmi mereka," katanya.

Dia mencatat bahwa pemerintah daerah di Makkah sudah ditampilkan komitmen untuk reformasi lingkungan, dengan pembangunan sistem metro baru mampu mengangkut 2,5 juta jamaah haji. Mereka juga melakukan serangkaian diskusi yang sedang berlangsung untuk menyediakan termos air.

Menurut Omar Faruk, direktur pendiri EcoMuslim, konservasi tidak hanya kompatibel dengan ajaran Islam, itu adalah terpisahkan.

"Quran mengatakan Bumi adalah hijau dan indah, dan Allah telah menunjuk Anda sebagai khalifahnya di muka Bumi," katanya. "Secara sederhana, go green adalah bagian sentral dari menjadi seorang Muslim yang baik."
(sumber: Republika)

No comments:

Post a Comment